Posts

Showing posts with the label Cerpen

Yogyakarta #1

Yogyakarta #1 Tujuh tahun lalu aku pergi menuju sebuah kota besar di Indonesia. Sebuah kota di pertengahan Jawa, dekat dengan Samudera Hindia. Yogyakarta namanya. Katanya sih kota pelajar, makanya aku memilih untuk menjadi seorang pembelajar di kota ini. Merintis sebuah kehidupan baru. "Saraaaah!" teriakku dari ujung peron utara. Perempuan bernama Sarah itu menghentikan laju kakinya, koper yang ia tarik juga berhenti. Beberapa orang di belakang Sarah juga berhenti. Kaget. Salah seorang ibu yang sedang menggendong bayi berumur sekitar 12 bulan mendelikan mata, ia tadi berada tepat di belakang Sarah. Terlihat dari kejauhan, Sarah membungkuk meminta maaf kepada perempuan paruh baya itu. Perempuan itu kembali berjalan setelah menegur Sarah secara halus, "Lain kali jangan berhenti tiba-tiba ya, Mbak." Sarah mengangguk. Lalu menatapku yang sudah berdiri mematung di sebelahnya. Setengah menit lebih ia memandangku tanpa berkedip. "Kamu bali...

Cerpen: Dialog Sore Bersama Ibu

     “Pak Harto tuh tujuannya baik, ia pura-pura menculik Bung Karno agar tidak ikut menjadi korban G30S/PKI, apalagi dengan kondisi Bung Karno yang sedang sakit-sakitan. Keluarga Bung Karno saja yang menganggap Beliau salah satu dalangnya.” ujar Ibu sore itu sembari menonton berita sore yang menayangkan reka adegan G30S/PKI.      “Pak Harto tuh ahli strategi, Kak. Makanya Beliau mengetahui langkah-langkah apa saja yang harus diambil agar tidak mencelakakan banyak orang.” lanjutnya.      “Makanya ya, Bu, negara kita menjadi lebih baik saat dipimpin oleh seorang militer, terutama TNI, karena mereka sudah digembleng selama 4 tahun untuk strategi keamanan dan kestabilitasan negara.” ujarku menambahkan.      “Oooh, jelas, Kak. Terutama TNI-AD. Pak Harto, SBY, mereka dari TNI-AD. Mereka orang Kopassus, Kak. Kualitas strategi mereka sudah terbukti selama mereka menjadi presiden RI. Atau lihat Gatot Nurmantyo, panglima TN...

Robbish rohli sodri

     “Assalamualaikum. Bal, gue besok mau mengisi acara lagi di Semarang, tapi…….” ujar Icha terputus kepada lawan bicaranya melalui telepon genggamnya.      “Waalaikumsalam. Tapi kenapa lagi, Cha?” laki-laki itu bertanya sembari memantau pekerjaan anak buahnya di sebuah perusahaan BUMN. “Lo sudah berangkat ke Semarang? Naik apa?”      “Pesawat jam 7 malam ini. Besok acaranya mulai jam 8 pagi, gue takut sekali, Bal.” Icha berkata dengan nada lirih.      “Ya ampun, Cha. Lo sudah 89 kali menjadi pembicara, kalau Allah berkehendak, besok akan genap menjadi 90. Di depan guru sering, di depan anak kecil apalagi, di depan presiden juga pernah, bahkan lo pernah bersanding dengan seorang Gubernur DKI Jakarta loh. Dan lo masih gugup juga?”      Iqbal benar-benar tak habis pikir terhadap sahabatnya ini. Icha adalah seorang aktivis di bidang kerelawanan. Ia memiliki sebuah yayasa...

Cerpen: Cerita Sore

     "Yah, nanti yang membiayai adik siapa?" Nada, seorang anak berusia 16 tahun menanyakan pertanyaan yang ia sendiri tidak memiliki alasan untuk bertanya. Kalimat tanya itu keluar dari mulutnya begitu saja.      Lelaki yang disebut Ayah hanya terdiam, sebagai jawaban atas pertanyaan putri sulungnya.      "Huss. Kenapa Kakak bertanya seperti itu? Kan masih ada Ayah dan Bunda." ujar seorang perempuan berusia 42 tahun yang tak lain adalah seorang istri dari lelaki yang dipanggil Ayah.      Tiga hari kemudian remaja perempuan itu mendapatkan alasan dari pertanyaannya tersebut. Ayahnya tak lagi menjadi seorang kepala di keluarganya. Tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga berakhir seiring dengan usianya yang berhenti. Kini, tanggung jawabnya diemban oleh istrinya dan tentu saja secara otomatis sebagai anak pertama, putri pertamanya harus membantu sang kepala keluarga yang baru. ...

Hijrah

     Suatu sore di pelataran masjid kampus di daerah Semarang, dua orang perempuan berusia 20 tahunan sedang bercakap-cakap selepas solat ashar berjamaah.      “Apa yang akan kamu lakukan dengan buku itu?” perempuan berjilbab cokelat muda bertanya sembari melipat mukena masjid.      “Aku yang akan meminta tanda tangan dosen itu, supaya kami semua dapat pergi bersamaan. Oiya, nanti tolong antarkan aku ya untuk mengambil buku itu, sekalian kita beli takjil untuk berbuka saja.” perempuan satunya lagi menjawab sambil membenarkan letak jilbab biru mudanya.        Perempuan pertama terdiam sejenak, wajahnya memancarkan raut muka bingung. Hal ini tidak sempat tertangkap oleh perempuan kedua yang masih sibuk membenarkan hijabnya.        “Hmm, Rin.” kata perempuan pertama ragu-ragu menyapa sahabatnya.      “Yaa?” perempuan yang bernama Rina...