Posts

Showing posts with the label Love

Philophobia.

Philophobia. Delapan tahun saya menjomblo (yaa kira-kira dikurang setengah tahun dengan hubungan tanpa status), saya rasa saya menderita philophobia. Ketakutan akan jatuh cinta. Pertama kali kamu benar-benar jatuh cinta pada seseorang, lalu ketika mencapai puncak perasaanmu, dia ternyata selingkuh di depan matamu. Putus dengan cara yang gak baik sama sekali. Mungkin inilah yang menyebabkan saya menderita philophobia. Yaa, dan saya baru sadar jika saya menderita penyakit ini. Yeuh. Selain itu, melihat seseorang yang benar-benar kamu percaya dan kamu sayangi selingkuh di depan matamu. Hal ini membuatmu sangat amat membenci jatuh cinta. Buat apa jatuh cinta jika pada akhirnya kamu berselingkuh? Saya pernah membuat postingan tentang kekesalan saya terhadap jatuh cinta, jauuuh sebelum saya sadar kalau saya philophobia. Sepertinya sejak saat itu, saya benar-benar membenci semua pria dan benar-benar muak dengan segala macam kisah percintaan. Saya memiliki riwayat trauma terhadap jatu...

Menunggu

Hai perempuan, kalau suatu saat kamu diminta untuk menunggu, apa kamu mau menunggu?      Suatu saat temanku bercerita, “Nis, ada orang yang memintaku untuk menunggu.”   “Hmm, lalu apa jawabanmu?” jawabku. Jujur aku bosan dengan pertanyaan ini. Pertanyaan yang bahkan aku sendiri tidak tahu jawabannya. “Aku minta dia supaya tidak menunggu.” “Loh, memangnya kenapa?” jawabku antusias. Aku selalu penasaran dengan wanita-wanita super. Strong independent woman who need no man. “ Buat apa aku menunggu yang tidak pasti, kukira dia akan nikah dalam waktu dekat, ternyata masih dua tahun lagi.” Ia menjawab dengan senyum yg melengkung ke bawah dan alis yang mengkerut. Pasti dia sedang bimbang sekali, batinku. Susah untuk memutuskan hal seperti ini, ditolak takutnya melewatkan jodoh, diterima juga takut bukan jodoh.      Huf. Hidup.      Menunggu.      Suatu saat, teman satu perguruan di...

Tentang Rasa

Opini ya? Hmm. Hai,   Imam Patria Ranggis  ! Gue menjawab tantangan lo nih menulis opini tentang, “Rasa”.     Rasa ya? Hmm. Agak susah yah temanya, hasil gue googling kebanyakan isinya tentang “ Pengertian rasa menurut Islam Kejawen” atau gak “Rasa menurut Ilmu Metafisika” . Lo berniat menjerumuskan gue ke hal-hal yang berbau supranatural, ya? Sekalinya ada, penjelasannya agak gak normal dan menurut gue penjelasannya sangatlah filosofis, serta bukan gue banget. Nuhun loh.     Oke, jadi ada lima makna kata rasa di KBBI, tapi gue lebih suka makna yang keempat, yaitu tanggapan hati terhadap sesuatu (indra) . Ya, lagi-lagi kalau membahas mengenai rasa, pasti nyerempetnya ke hati. Coba ya, andaikan kita lagi kecewa, sebal, atau benci terhadap seseorang, organ tubuh manakah yang memproses terjadinya kata sifat tersebut? Hati, kan? Kecewa, sebal, atau benci merupakan sebuah rasa negatif, sedangkan kasih sayang, cinta, atau ikhlas, m...

Pintu Masuk

Kalau mau masuk ya masuk, kalau mau keluar ya keluar! Jangan masuk-keluar, masuk-keluar, nanti pintunya rusak kalau bolak-balik kamu buka. Ih sudah kubilang jangan berdiri di depan pintu! Kalau mau masuk ya masuk, kalau mau keluar ya keluar! Kamu tahu tidak? Kamu tuh menghalangi orang lain yang mau melewati pintu ini. Tuh lihat! Yang di luar ingin mengetuk pintu tapi karena ada kamu di depan pintu, dia langsung berlalu begitu saja. Salah siapa? Ya salah kamulah! Ini ada orang yang hendak keluar rumah tapi kamu masih bertahan di depan pintu, tidak masuk dan tidak keluar. Coba kamu pikirkan dahulu, dia harus keluar lewat mana selain lewat pintu ini? Mendingan sekarang kamu tentukan sikap, kamu itu sebenarnya ingin masuk atau keluar dari rumahku? Depok, 07 Januari 2017 -White Rose-

Cerpen: Bumi Berhenti Berputar

    Detik itu, aku merasa bumi berhenti berputar. Bumi seakan menjauh dari matahari. Dentuman musik salah satu band papan atas di negaraku seperti berhenti bergema. Suara vokalis band tersebut terdengar samar-samar. Udara menjadi terasa sangat dingin. Kakikupun sangat kaku. Aku membeku.     Detik itu, aku melihatmu kembali!     Bersama seorang wanita, yang merengkuhmu dengan penuh cinta.     Alunan musik berubah menjadi suara yang teramat bising. Hiruk pikuk manusia berubah menjadi tembok yang perlahan menyempit, seakan-akan mendekatkan jarak antara kita. Jarakpun dengan santainya mengejekku, “Hai manusia, lihatlah! Inilah akibat kamu bermain-main denganku! Aku telah membuat jarak antara kalian semakin membesar! Silakan kamu rasakan sendiri akibatnya!”     Dalam kebekuan, aku memandang punggungmu, sembari berusaha bernafas normal. Namun sekuat apapun aku berusaha, aku tetap tidak mampu mengeluarkan karb...

Cerpen: BERHARAP

   Entahlah, di setiap harinya ada rasa yang membuncah ketika sekedar melihat namamu hadir di timeline media sosialku. Rasanya bersyukur melihat kamu baik-baik saja di sana. Iya. Di sana.     Hei, apa kabar? Ingin rasanya aku menyapamu. Ingin rasanya aku menanyakan bagaimana kabarmu hari ini. Aku ingin menuangkan segala keluh kesahku padamu, bercengkrama denganmu di setiap detik yang kuhabiskan. Aku ingin menjadi tempatmu berpulang ketika kamu membutuhkan rumah.     Ada rasa senang yang tak terhingga ketika kamu sekedar meletakan serangkaian kalimat di kolom komentar media sosialku. Aku merasa kamu masih berada di ruang lingkupku, walaupun pada kenyataannya kehadiranmu kau berikan untuk orang lain.      Lima tahun. Bagaimana bisa waktu selama itu kuhabis untuk mengharapkan orang sepertimu? Lelaki lain dengan mudahnya datang dan pergi di pikiranku, tapi kamu. Iya, kamu. Tidak pernah beranjak sedikitpun dari ...