Posts

Sabaaaarrrr

Kalo sama Jumat minggu lalu, berarti saya sudah 4 kamu bimbingan. Dan 2 bimbingan benar-benar dihajar habis-habisan. Hahahahahahahahahaha. Ini pekerjaan kamu, kan? Harusnya kamu lebih paham dari saya. Masa bikin power point aja harus diajarin. Makalahnya nyontek ya? Kamu bikin apa sih di makalah? Kamu baca gak makalahnya? PPTnya kok putih semuanya? Ini harusnya bisa dijadikan satu halaman aja. Banyak kok template PPT gratis di internet. Kamu udah 2 kamu bimbingan saya rasa makalahnya belom diedit juga. #inibener Jleb jleb jleb jleb. Tolong aku. Otakku ngepul. Maaf dok. Maafin saya. Saya tau saya salah. Ngerjain makalah dan power point di menit terakhir menuju bimbingan. Maaf dooook saya ga belajar. Salah saya gak belajar sebelum bimbingan. Saya cuma ingin pekerjaan saya selesai. Ga musti perfect. Karena saya terbiasa super perfectionist. Eh dimarahin juga. Ah idup. Idup. Kapan ya kaga dimarahin wkwk. Yauda. Hari ini harus selesai. Lihatlaaaah powerpoint saya yg sudah saya desain sepenu...

Dua

Image
Dua ribu dua puluh dipenuhi dengan ketidakpastian dalam hidup. Quarter life crysis. Permasalahan hidup. Pembelajaran menuju kedewasaan. Mencari makna kehidupan. Memahami keinginan diri sendiri. Berdamai dengan ekspektasi. Hidup dengan bahagia dan tentram. Dua ribu dua belas saya resmi berpisah dengan sahabat SMA saya setelah dua tahun berjuang bersama. Jakarta-Bandung-Jogja. Terlebih di tahun terakhir masa putih abu-abu. Dua belas jam saya dihabiskan bersama mereka. Bahkan keluarga saya kalah. Enam ke enam. Enam pagi berangkat menuju sekolah, enam sore selesai belajar bersama. Entah itu di rumah Eyang Uti saya, di rumah Eno, di rumah Via, atau di rumah Aday. Bertemu dengan mereka lagi, mereka lagi. Makanya tidak heran jika, salah satu dari kami memiliki masalah yang lain akan langsung mengetahui tanpa bercerita. Dua puluh enam  tahun usia rata-rata kami. Dulu mungkin belum terbesit dalam pikiran kami, di usia dua puluh enam akan menjadi seperti apa. Akan memiliki apa. Dulu yan...

Dua Puluh Enam

Hai, Nisrina! Sudah dua puluh enam ya. Empat tahun lalu, dua puluh enam itu waktunya untuk menikah dan melanjutkan s2. Apakah bisa menjadi kenyataan? Ah, rasanya setiap cita yang kamu tuliskan di sini hampir selalu menjadi realita. Kadang itu kan yang membuat kamu takut untuk menulis? Ah, Nisrinaa. Kamu hebat Nisrina. Sudah melewati seperempat abad. Melalui fase-fase kritis sebagai seorang manusia. Perlahan naik level setahap demi setahap. Kamu hanya perlu mencintai dirimu sendiri, Nisrina. Kamu tuh hebat. Gak perlu lah pengen diliat orang lain. Pengen hebat karena gila apresiasi. Gausalah ya. Cukup apresiasi di diri kamu aja. Kamu cape nanti kalo hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Nisrina, jadilah manusia yang bahagia di dua puluh enam. Jadilah manusia yang terbaik bagi diri sendiri ya. Kalo kata mas-mas ganteng di BTS. "You gave me the best of me So you'll give you the best of you Neon chaj-anael geoya ne an-e issneun galaxy" You'll find it in your galaxy. ...

Nabung, penting gak sih?

Image
Sebagai seorang mahasiswa yang dapet duit masih dari orang tua, kadang dapet duitnya juga dari kerjaan lepasan kaya membantu penelitian dosen, jadi asisten dokter gigi. Awalnya terpikir di otak gue. "Ah apaan sih investasi, gue belom punya cukup uang buat nabung." "Ah, gue masih mau foya-foya dengan uang yang gue dapatkan dengan keringet gue." Yaiyalah, coba bayangin, lo kerja full dari jam 4 sore sampe jam 10 malem digaji 70k HAHAHA. Gue pernah coba saving karena gue waktu itu mau ikut pelatihan,butuh uang banget bayar biaya pendaftaran dan transportnya, tapi ga mau minta nyokap. Akhirnya gaji gue sebulan gak gue ambil sama sekali. Gue rela lembur sampe jam 10 malem hampir setiap jadwal gue jaga. DAN WOW! Mo nangis, gue langsung bisa bayar biaya pendaftaran, transport, dan tambahan uang jajan buat pelatihan itu. Ah, perjuangan itu indah sekali jika ingat :") Dari sini gue berpikir bahwa, jika uang lo tabung uang lo, maka ketika lo membutuhkannya, uang itu akan...

Apa yang Membuatmu Bertahan?

Suatu hari saya bercerita kepada kawan mengenai dunia. Saya berpikir bahwa betapa tidak adilnya kehidupan saya sampai detik saya bercerita. Apa yang membuat hati saya terasa pedih dan teriris sehingga menimbulkan tidak hanya bekas luka batin, namun juga bekas luka fisik di lengan. Saya mengatakan bahwa saya benci dengan diri saya ketika saya tidak dapat mengungkapkan apa keinginan saya sama sekali. Berpikir bahwa betapa bodohnya saya ketika saya tidak mampu untuk mengatakan kebencian saya terhadap apa yang saya tidak sukai. Rasa benci yang kian menumpuk, semakin membuncah memenuhi dada. Rasa bersalah menghujam di keseharian. Membuat kekuatan diri menjadi lemah padahal energi positif terus mengalir. Cinta dan pertolongan terus menerus hadir. Namun yang diharapkan tidak pernah ada, justru menghadirkan luka setiap hari yang semakin dalam dan menyakitkan. Apa yang salah? Mungkin saja benar bahwa hati ini sedikit menjauh dari-Nya. Mencari dan menemukan kembali serpihan iman di dalam diri ya...

My Brain

If you ever feel nothing when everyone around you. You must go to Psychiatrist. Yes, I did. He said I got depression. So I must eat Fluexetin as an antidepresan to netralize serotonin and Clobazam as an antianxiety to reduce overthinking. But, I stop it by myself, cause the side effects must bigger than the effects. . I almost hate everything, especially people. Kesel banget rasanya ketika plan lo tidak berjalan sesuai dengan kemauan lo. Egois? Emang. Pas nulis ini adalah Nisrina tipe A, Nisrina yang sedang menjadi manusia galak, suka marah-marah, temperamen. Nisrina yang ga produktif, nulis aja susah banget. Harus dipaksa. Ngeluarin tulisannya apalagi. Kayanya ini akan berakhir di chat room aja. Ini sepertinya kepribadian asli. . Adalagi Nisrina tipe B. Nisrina kalo lagi baik sama orang. Nisrina yang penuh ideation, mimpi, dan gelora. Nisrina yang mengiyakan segala permintaan orang lain dan mengebelakangkan diri sendiri. Nisrina yang bisa nulis pake perasaan. Nisrina yang bisa men...

Banu dan Hani

Siang itu tak ada yang bertanya. Semua teman Hani bungkam. Tak berani bertanya atau berkomentar. Sore itu Sari bertanya, "Hani, apakah kau menangis?" "Tidak." jawab Hani. Hani memintanya untuk berbicara melalui telepon. Hani lalu bercerita tentang siang itu. Mendung sudah sampai di pelupuk mata. Namun air tidak juga turun menuju pipi. Ternyata sakit ini masih tertahan, pikirnya. Sari berkata bahwa Hani akan segera menemukan manusia keren lainnya. Hani tertawa kecil dan mengucapkan terimakasih. Telepon dimatikan. Hani tak tahan menahan rasa. Hani tak ingin mengingat hal yang tak perlu diingat. Hani diantar menuju stasiun terdekat. Kereta listrik menuju Bogor ini bergerak terlalu cepat, ujar Hani dalam hati. Pikiran Hani melanglang buana mengingat segala hal. Hani berpisah dengan kereta. Hani dijemput di stasiun. Lalu bertemu banyak sekali manusia pada malam itu. Beberapa baru bertemu. Beberapa pernah bertemu namun lupa. Salah satu yang mencuri perhatian Hani adal...