Posts

Singgah

Selama aku masih menghembuskan nafas, ada kalanya seseorang datang untuk sekedar singgah. Mereka yang memberikan warna dalam gelapnya hidup, meneteskan air dalam kemarau cinta, atau menyelamatkan diri ini dari kobaran kejahatan. Hanya untuk singgah sementara. Jika kamu melihat ke depan, dapatkah kamu menebak siapa yang akan datang untuk menetap selamanya atau singgah untuk sementara? Kita bukan Tuhan, yang punya segudang rencana untuk umat-Nya dan dapat dijalankan sesuai kehendak-Nya. Jika aku menginginkan dia-lah yang akan bertahan, apakah aku dapat memaksa-Nya? Jika aku memiliki rencana untuk tetap bersamanya, apakah akan berjalan sesuai keinginanku? Bisa saja kan Tuhan mempunyai sesuatu hal menakjubkan, yang bahkan diri kita sendiri tidak ketahui. Singgah atau bertahan, bukan diriku yang menentukan. Cobalah kau tanya pada Tuhan, ajaklah Ia berdiskusi. Insha Allah kita akan selalu bersama, jika memang garis takdirnya seperti itu. Jika tidak, terima kasih pernah berteduh di hidupk...

Adik Laki-laki

Siang tadi aku sedang memamerkan foto adik laki-lakiku kepada beberapa teman sekelas. Lalu, aku duduk berhadapan dengan sahabatku. Tiba-tiba ia bertanya, "Mengapa sih kakak perempuan sering sekali membangga-banggakan adiknya. Tetapi, ketika dalam kehidupan sehari-hari, di rumah misalnya, mereka justru bersikap biasa saja, seakan-akan tidak pernah melakukan hal tersebut." Aku lalu terdiam dan menatapnya. "Apakah mbakmu juga seperti itu?" tanyaku penasaran. "Iya. Aku selalu dibanggakan di depan teman-temannya. Tetapi ketika ia berada di rumah, sikapnya berubah 180 derajat. Ia menjadi sangat usil, suka mengerjai aku yang sedang belajar, contohnya. Aku jadi bingung sendiri dengan sikapnya." jawabnya sembari mengetik di laptopnya. Aku sempat kehabisan kata dan bingung dalam menjawab pertanyaannya. Kemudian, bayangan adikku terlintas di kepalaku. "Mbakmu senang membanggakanmu karena mungkin dirimu memang patut dibanggakan. Banyak sekali prestasi yang ka...

Suka, Cinta, Rindu, dan Doa

Bagaimana bisa, sebuah perasaan suka bisa bertahan sejauh ini? Setahuku, jika kita menyukai seseorang lebih dari tiga bulan, maka perasaan itu berubah menjadi cinta. Sedangkan perasaan yang kumiliki saat ini sudah hampir mencapai tahun ketiga. Apa benar perasaan yang kumiliki saat ini namanya cinta? Ah Tuhan, aku tidak yakin. Ya, aku tidak yakin bahwa aku mencintainya. Inikah yang mereka sebut rindu? Ketika aku hanya dapat menatap gambaran diri dalam sebuah foto. Ya, hanya melihat foto dirinya saja, bahkan tidak bercengkrama sama sekali. Rindu ini sudah membuncah. Rindu untuk bertemu, rindu bertatap muka, bahkan rindu ketika bercakap-cakap. Kapan terakhir kali kita berbicara empat mata? Bukan kemarin, bukan minggu lalu, bukan bulan lalu, bukan pula tahun lalu. Terus kapan? Sejujurnya, aku tidak pernah mengingatnya. Mungkin ketika kita lulus wisuda? Atau ketika ujian nasional? How pathetic you are, girl. Dan ketika sebuah pesan singkat itu muncul, perasaanku mungkin masih tetap sama....

Teruntuk Teman-Teman SD-ku

Image
8 tahun yang lalu, ketika seragam putih merah tidak lagi menjadi pakaian sehari-hari yang aku kenakan saat berangkat ke sekolah. Masih teringat jelas dalam benakku, wajah kalian yang masih imut, polos, dan tak tahu apa-apa. Raut wajah anak usia 12 tahun yang baru saja melepas statusnya sebagai murid sekolah dasar. Wajah mereka yang aku sendiri pun tidak tahu, apakah nanti, 5-10 tahun yang akan datang masih seperti saat itu ataukah sudah banyak perubahan. Kalian adalah teman-teman terbaik yang pernah aku miliki. Menghabiskan 6 tahun bersama kalian dalam satu ruangan, melalui serangkaian masa kecil bersama kalian. Membuatku berpikir, ada yang tidak dapat diganti dari semua itu, yaitu kebersamaan. Mungkin aku pernah galak, jutek, sinis, manja, atau meremehkan salah satu dari kalian, tapi percayalah, dulu aku hanyalah seorang siswi sekolah dasar yang masih belum paham mengenai hakikat. Kita pun masih sama-sama kecil saat itu. Maafkan kekhilafanku, sobat. Kini, setelah usiaku ...

Salahkah?

Seiring bergulirnya waktu, semakin bertambahnya rutinitas harian, serta menumpuknya beban pikiran. Aku kira rasa itu sudah benar-benar lenyap tak bersisa. Tetapi realita tetaplah realita, berbanding terbalik dengan imajinasi, memusnahkan daya khayal manusia, mengangkat fakta dunia. Hati yang berusaha kususun rapi, mencair kala melihat senyum dari sudut bibirnya. Pandangan yang berusaha kusimpan, tak mampu lagi menahan pesona garis matanya. Salahkah aku jika masih memiliki rasa itu? Ketentraman saat berada di sisimu, kenyamanan ketika bersandar di pundakmu, serta kehangatan dikala bercakap denganmu. Salahkah memori otakku masih menyimpan kenangan itu? Punggungnya yang bidang sebagai pengganti bantal bagiku. Senyum simpulnya sebagai penyejuk tangisku. Selera humor rendahnya sebagai pelipur laraku. Ah, aku memang salah selalu menengok ke belakang. Padahal jalan di depan masih terbentang. Aku menyadari aku salah. Tetapi aku tetap bertahan. With love, White Ro...

Stasiun Pasar Senen

            Jam berdentang menunjukkan pukul 4 sore, matahari telah menurun sampai 50’ aku masih terduduk di atas koper kotak-kotak cokelatku di belakang gerbang masuk peron. Sebenarnya banyak tempat duduk kosong, entahlah aku hanya merasa nyaman duduk menyelojor di bawah. Menikmati kesendirianku di sini, berada jauh dari keramaian yang asing. Tiba-tiba ada serombongan keluarga besar datang. Ada ibu, bapak, nenek, dua anak laki-laki, tiga anak perempuan. Sepertinya mereka hendak pulang kampung, dari bahasa Jawa yang mereka ucapkan dan barang bawaan mereka yang terbilang banyak. Dan… mereka berhenti tepat di sebelah kananku, menggeser sedikit tempat dudukku sehingga akupun semakin berada dekat tempat sampah. Huh, kan aku yang lebih dahulu duduk di sini!             Aku masih mengamati mereka satu persatu. Oh, anaknya tertua mereka laki-laki, dan ia baru saja pulang dari ...

The Conversation

“Ada seseorang dalam hidupmu, yang ketika ia pergi, maka ia juga membawa sepotong hatimu.” -Darwis Tere Liye- -------------------------------------------------------------------------------------- B : "Gue diajak kenalan nih." A : "HAAAAH? SAMA SIAPAAA? ALHAMDULILLAAAAH." B : "Sama monyet." A : "Serius njir." B : "Kalo gue udah kenal ya gak perlu kenalan." A : "Oke, terus?" B : "Tapi masalahnya gue belum bales smsnya sejak 2 hari yang lalu." A : "Oke itu jahat. Kan hanya berkenalan. Kenapa gak dibales?" B : "Ah kalo kenalan juga pasti ada maksudnya itu mah." A : "Maksud?" B : "Dulu gue punya temen, sebelumnya belum temenan sih. Dia pernah berkata, aku ngelakuin kayak gini ada efeknya bro." A : "Gak ngerti." B : "Jadi maksud dia, ya dia punya misi tersendiri buat gue. Entah itu mau jadiin gue pacarnya atau gimana....