Posts

Cerita tentang Kerajaan Berkembang

Pada zaman dahulu, jauh sebelum negara ini merdeka. Rakyat di negara ini hidup dalam kegelapan, terutama rakyat kecil. Mereka sulit untuk mendapatkan akses listrik, pendidikan, dan kesehatan, sehingga cita-cita dan impian masa depan anak-anak harus terkubur. Tidak ada mimpi yang dapat terwujud, kecuali mereka hidup dalam keluarga menegah ke atas. Jika melihat dari sudut pandang netral, kesulitan disebabkan karena pihak langit yang tidak melihat secara menyeluruh ke bumi. Seperti saat kita duduk di pesawat, ketika kita melihat ke daratan dari jendela pesawat yang sedang mengudara di langit, yang dapat kita lihat hanyalah titik-titik kecil. Namun ketika pesawat akan  landing , maka titik itu akan berubah, menampakkan bangunan atau pepohonan. Segala sesuatu jika dilihat dari jauh, yang nampak hanya permukaannya saja. Tidak dapat kita lihat permasalahannya kalau hanya dilihat secara sekilas. Persoalan tidak hanya disebabkan oleh pihak langit. Pihak bumi juga kurang mengerti alur, merek...

Apa yang Harus Aku Berikan untuk Negara?

Belakangan ini, negara sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Dimulai dari isu pemilihan presiden dan wakil presiden yang menuai kontroversi. Usia salah satu calon wakil presiden tidak memenuhi syarat pencalonan. Kemudian muncul Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang mengubah syarat batas usia calon presiden dan wakilnya, dari yang seharusnya 40 tahun menjadi 34 tahun. Hal ini kalau dipikir secara logika, menguntungkan bagi salah satu kubu calon. Ada syarat baru juga yang ditambahkan selama pemilihan umum 2024, yaitu pernah dipilih atau terpilih menduduki jabatan publik melalui pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah. Kedua hal ini telah terbukti sebagai pelanggaran kode etik sehingga Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi menjatuhkan sanksi berupa teguran kepada ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Kalau kita pikirkan secara mendalam, betapa rumitnya kehidupan di suatu negara. Apalagi ketika harus mengurus negara. Justru semakin rumit. Namun mengapa masih ada seke...

Selimut yang Menghangatkan

Hari ini hujan deras sekali. Sudah hampir tiga jam hujan turun membasahi tanaman di pekarangan rumahku. Aku selalu bersyukur ketika hari hujan. Karena tong air di rumahku akan selalu penuh. Aku dapat mandi, mencuci baju, mencuci piring, dan mengepel lantai tanpa perlu khawatir kekurangan air. Hujan memberikan rahmat, namun hujan juga bisa menjadi bencana. Di desa sebelah, jika hujan deras, maka akan menyebabkan air sungai naik dan terjadi banjir. Air akan masuk ke rumah-rumah dan mengotori lantai. Kejadian terparah terjadi pada awal tahun lalu. Gapura desa sebelah terendam banjir. Lalu lintas jadi tersendat. Para pekerja, seperti guru dan petugas kesehatan tidak berangkat kerja. Anak sekolah diliburkan karena sekolah banyak terdapat lumpur. Pusat kesehatan ditutup karena alat kesehatan menjadi kotor dan berwarna kecoklatan. Malam ini hujan, namun kipas anginku tetap menyala. Walaupun suhu udara rendah, aku tetap ingin ada angin yang menampar tubuhku. Tidak dingin, karena aku punya seli...

Aku ingin Tinggal di Istana

Belasan tahun aku tinggal di rumah ini. Tempat berlindung dari terik matahari dan hujan badai. Tempat aku beristirahat di panasnya siang dan dinginnya malam. Rumah ini memiliki dua lantai dengan cat dominan warna krim. Ada teras dan pagar yang membatasi dan mengamankan rumah. Dahulu teras tersebut berisi berbagai macam tanaman ibu, tapi sekarang sudah dibongkar untuk garasi mobil. Empat kamar tersedia di dalamnya. Kamar aku dan kedua adikku, serta kamar ibuku. Tidak terlalu luas, namun tidak terlalu sempit. Seharusnya, aku bersyukur memiliki rumah yang dapat ditinggali setiap hari. Kata  mahfudzot  Arab: Rumahku, istanaku.  Baitii jannatii.  Namun bagiku, rumah ini tidak seperti istana. Dapur yang sempit. Keran kamar mandi sering bocor. Air hangat sering tidak menyala. Air sering macet. Dinding mengelupas. Orang tua yang sering mengekang. Sungguh, terlalu banyak hal yang membuatku tidak nyaman tinggal di rumah orang tuaku. Aku ingin memiliki rumah sendiri. Aku ingin ...

Apakah Perbedaan Tambalan Sementara dan Permanen?

Image
Gigi terdiri dari mahkota dan akar. Pada mahkota, terdapat enamel dan dentin. Enamel yaitu bagian gigi yang berwarna putih, sedangkan dentin bagian gigi yang berwarna putih kekuningan. Pada akar, terdapat kamar pulpa dan saluran akar, dimana di dalamnya banyak terdapat pembuluh darah dan saraf. Jika lubang pada gigi hanya terdapat pada enamel, maka dapat langsung dilakukan penambalan permanen. Bahan tambal yang digunakan, antara lain  Glass Ionomer  yang diaduk dan dapat kering sendiri ketika terkena saliva, atau menggunakan bahan tambal komposit yang harus disinar terlebih dahulu agar dapat kering. Kedua bahan tambal ini memiliki kualitas yang sama dalam hal ketahanan, perbedaannya pada estetikanya. Bahan tambal komposit memiliki partikel yang lebih kecil dan rapat, sehingga menghasilkan warna yang sama dengan gigi asli. Tambalan komposit biasa dipakai untuk gigi anterior, karena pertimbangan estetika. Namun tidak jarang juga, pasien yang menginginkan gigi belakang ditambal d...

Hari bersama Nenek

Saat aku kecil, aku banyak menghabiskan hari bersama nenek. Kedua orang tuaku bekerja. Mereka sudah berangkat menuju kantor sejak matahari belum muncul, dan pulang ke rumah saat matahari sudah tenggelam. Kukira kehidupan yang aku jalankan saat itu hanya ada dalam di Utopia, namun kenyataannya, aku sedang menjalankannya. Nenek tinggal seorang diri, tanpa kakek. Kakek meninggal saat usiaku masih tiga tahun. Aku belum sempat mengenal kakek dengan baik. Sedikit sekali waktu yang kuhabiskan bersama kakek. Kenangan yang paling aku ingat dengannya, yaitu kakek selalu mengajak makan tepat waktu. Saat muda dahulu, kakek adalah seorang tentara. Hidupnya sangat teratur. Bangun pagi jam 4 subuh, mandi, lalu solat. Jam setengah enam, ia sudah siap untuk jalan pagi mengitari kampung. Lalu kembali ke rumah dan bersiap untuk sarapan. Anehnya, nenek selalu tepat waktu menyiapkan sarapan kakek pukul setengah tujuh. Makan siang jam 12.30 , tidak pernah telat. Aku hanya sesekali makan malam dengan mereka...

Bagaimana Rasanya Cabut Gigi pada Orang Dewasa?

Setiap pasien yang datang padaku untuk cabut gigi, biasanya bertanya, “Dok, cabut gigi sakit, engga?” Tentu saja sebagai dokter gigi, kredibilitasku dipertaruhkan. Kalau aku jawab tidak sakit, maka aku akan bohong. Karena rasanya sakit saat dilakukan penyuntikan larutan anestesi. Saat jarum suntik pertama kali menembus lapisan mukosa mulut, rasanya seperti digigit semut. Saat dokter gigi mendeponirkan larutan anastesia, atau bahasa mudahnya, memasukan obat ke dalam mukosa mulut, itu juga mungkin akan terasa sakit, jika dokter giginya melakukannya dengan cepat. Seharusnya dilakukan dengan perlahan, agar pasien merasa nyaman sejak pertama dilakukan pembiusan. Setelah dilakukan pembiusan, maka pasien akan menunggu 3 sampai 5 menit, agar obat dapat bereaksi. Biasanya akan muncul rasa kebas atau tebal pada pipi, bibir, ataupun lidah. Dokter gigi akan melakukan tes, yaitu dengan menjepit mukosa mulut dengan menggpunakan pinset, tanpa kekuatan penuh. Jika pasien tidak merasakan sakit pada bag...

Gigi Berlapis?

Pada suatu malam, saya mendapat sebuah pesan singkat dari seseorang yang tidak ada namanya, tidak ada foto profilnya, dan tidak saya simpan kontaknya. “Dok, anak saya giginya berlapis.” katanya. Jujur, awalnya saya bingung. Baru kali ini saya menemukan keluhan pasien dengan gigi berlapis. Apakah maksud dari kalimat tersebut? Apakah gigi anaknya dilapisi dengan karang gigi? Apakah gigi anaknya dilapisi dengan veneer? Kepalaku pusing menerka jawabannya. Akhirnya kubalas pesan singkatnya, kutanyakan berapa usia anaknya dan apakah ada keluhan sakit atau tidak. Sebuah pesan singkat masuk lagi ke telepon genggamku. Balasan bahwa ternyata anaknya berusia enam tahun dan tidak memiliki keluhan sakit. Hanya saja giginya agak sedikit goyang. Otakku langsung lancar berpikir. Oh,  persistensi  gigi! Persistensi  gigi adalah suatu kondisi dimana terdapat gigi dewasa yang sudah tumbuh di belakang gigi susu. Biasanya, gigi susunya sudah goyang disebabkan karena akar gigi yang sudah resor...

Setetes Air Putih

Aku selalu merindukan saat dimana aku dapat meneguk air putih. Saat dimana tenggorokanku begitu kering, sehingga aku membutuhkan setetes air putih untuk kutelan. Setetes air putih yang dapat melepaskan segala rasa dahaga. Setetes air putih yang menyegarkan dan menambah stamina tubuh. Dalam sehari, mungkin kita pernah lupa untuk meminum air putih. Kita terlalu sering meminum air berasa dan berwarna. Baik itu teh, kopi, ataupun susu. Padahal setetes air putih, bisa mempertahankan kesehatan ginjal kita. Terlalu banyak minum minuman berasa, akan memperberat kinerja ginjal kita. Maukah kamu di usia muda sudah menderita gagal ginjal? Tentu saja, manusia jelas tidak ada yang mau menghabiskan sisa usia berkawan dengan alat cuci darah. Makanya, jangan lupa minum air putih! Air putih itu murah dan terjangkau. Air putih bisa dibeli dimana saja. Jika ingin berhemat dan lebih peduli lingkungan, bawa sendiri tempat minum dari rumah yang sudah diisi dengan air putih dari galon. Sekarang sudah banyak ...

Pilihan Hati

Apakah akan ada kesamaan antara hal yang kita pilih menggunakan logika dengan hal yang kita pilih menggunakan hati? Akankah hasilnya berbeda? Manakah yang seharusnya menjadi prioritas dalam memutuskan suatu hal? Berdasarkan logika berpikir atau berdasarkan dari perasaan? Hasil dari MBTI aku adalah ENFP.  Feeling , atau perasaan. Maka dari itu, aku seringkali dalam memutuskan suatu hal lebih mengedepankan perasaan. Jika kamu pernah mendengar, perempuan saat menjadi pemimpin lebih mementingkan perasaannya. Maka menurut aku, hal tersebut seratus persen benar. Namun tidak jarang juga aku memutuskan sesuatu menggunakan logika. Aku terkadang lebih banyak mempertimbangkan hal yang lebih menguntungkan untuk diriku daripada hal yang aku sukai. Jadi, walaupun hasil MBTI aku adalah ENFP,  feeling  yang kudapatkan tidak seratus persen, 60% dari 100 aku memang memiliki kepribadian  feeling , namun 40% sisanya aku masih seseorang yang memiliki jiwa  thinking . Tidak mudah men...

Apakah Hidup Demi Gengsi?

Dalam hidup, ketika kita memiliki sebuah gelar, memang terasa menyenangkan. Seolah kita berada di atas angin dengan gelar yang kita miliki. Begitu juga saat kita memiliki jabatan tinggi. Rasanya dagu ini terangkat begitu tegak, sehingga sulit untuk diturunkan. Rasa sombong bergemuruh dalam dada. Diri ini seperti enggan melihat ke bawah, kepada teman yang derajat kehidupannya tidak lebih baik di mata kita. Padahal, jika ditelurusi kembali. Hidup itu sementara, akhirat yang fana. Untuk apa mempertahankan gengsi jika kita tidak dapat hidup sesuai dengan aturan agama? Sebentar, mungkin pertanyaannya harus aku ganti, pilih mana? Memegang teguh aturan agama, atau terus hidup dengan gengsi? Sudah seharusnya kita hidup dengan memegang teguh aturan agama. Agama harus tetap berada di puncak. Sedangkan gengsi harus di lawan. Gengsi menurut KBBI merupakan sebuah kehormatan dan pengaruh. Gengsi adalah sebuah harga diri. Makanya kenapa ada orang yang mati-matian terlihat kaya, hidup mewah, memakai b...

Sang Adik

Dik, teruslah belajar sampai kamu mual. Teruslah memahami isi buku pelajaranmu sampai kamu bosan dan ingin berlari. Karena kelak, kamu akan merindukan masa-masa belajar dari sebuah buku. Belajar teori. Pada masa depan kamu akan menyadari bahwa pembelajaran dalam hidup yang sesungguhnya adalah saat kita menjalani hidup. Keputusan yang akan kamu ambil pada satu hari, mempengaruhi kehidupanmu yang selanjutnya. Sebuah saran dariku yang telah melalui tiga puluh tahun asam garam kehidupan, jangan gegabah. Dik, benar kata Nadin Amizah,  hidup berjalan seperti bajingan. Kamu masih akan tak banyak mengerti banyak hal. Semuanya berenang di kepala.  Maka saat kamu merasa muak akan segala hal hidup, ceritakanlah, Dik. Setidaknya beban di kepalamu akan berkurang dengan bercerita. Perasaanmu pun akan sedikit lebih lega. Kamu juga akan mengambil keputusan dengan pikiran yang lebih jernih. Dik, percayalah. Hidup tidak akan semulus yang kamu inginkan. Akan ada hal rumit yang tidak pernah kamu ...

Andai Ayah Ada

Yah, sudah satu dekade kita tidak bertatap muka. Tidak ada sapa, tidak ada tawa, tidak ada kata. Hati ini terasa sakit mengingat kebersamaan kita yang dahulu. Yah, andai Ayah masih ada. Aku ingin menumpahkan segala resah dalam dadaku. Bercerita mengenai hidupku. Aku ingin setiap hari melaporkan kegiatanku. Sakit sekali rasanya saat aku tidak lagi dapat mengeluarkan rasa kesalku. Menyimpan segalanya sendiri tanpa ada teman cerita. Ayah, aku ingin bertemu denganmu. Ayah, andai waktu dapat aku putar kembali. Aku tidak akan mengambil keputusan bodoh. Seharusnya aku tidak pernah mengambil keputusan yang aku sesali. Harusnya aku dulu menyadari bahwa saat Ayah sakit adalah saat-saat terakhirku. Harusnya aku mengerti bahwa penyakitmu itu ganas dan mematikan. Dahulu aku terlalu egois, mementingkan diriku sendiri saja. Aku tidak pernah merawat Ayah ketika Ayah sakit. Aku selalu main di luar rumah dengan alasan belajar. Aku hanya peduli dengan diriku sendiri. Aku berpikir bahwa dengan belajar hid...

Cabut Gigi?

Ingat cerita tentang Mama Andi? Pasien perempuan berusia 40 tahun yang mengeluhkan sakit gigi. Saat ini, Mama Andi sedang aku periksa di Poli Gigi. Ternyata, Beliau tidak mengerti jika aku ajak bicara dengan bahasa Indonesia! “Pas keur tuang teh, nyeri pisan, teu tahan. Abi tos nginum obat oge.”  ujar Mama Andi. Maksudnya, saat Beliau makan, terasa nyeri yang tidak tertahankan. Beliau juga sudah minum obat. “ Muhun. Mama Andi, hapunten buka mulut heula, abi mau lihat sakedap giginya.” kataku. Aku mau melihat kondisi rongga mulutnya. “ Hayuk , Aaaaaaaaa….” lanjutku sambil membuka mulut lebar-lebar, tentu saja tidak dapat dilihat oleh Mama Andi karena tertutup oleh masker. Mama Andi mengikuti instruksiku. Bukaan mulutnya cukup lebar, sehingga aku dengan jelas melakukan pemeriksaan fisik pada rongga mulutnya. Hasilnya adalah terdapat tiga gigi belakang kanan yang berlubang besar dan satu sisa akar. “Mama Andi, ieu aya tunggul hiji. Aya lobang besar oge, tilu. Ari tunggulnya teh ...

Berjuang Maksimal

Ibu maaf, untuk kali ini aku tidak dapat memenuhi keinginanmu lagi. Aku mengecewakanmu di kali kedua. Aku belum ingin menjadi pegawai tetap seperti yang Ibu inginkan. Semua itu karena jauh di lubuk hatiku, aku ingin melanjutkan sekolah. Aku ingin terus belajar menjadi seorang abdi masyarakat yang kompeten. Ibu, maaf jika aku belum bisa menjadi seorang kakak yang menjadi teladan bagi adik-adikku. Aku hanya fokus kebahagiaan diri sendiri. Aku belum bisa memberikan kebahagiaan bagi Ibu dan adik. Ibu, hal yang sedang aku pertahankan saat ini adalah hal yang sangat aku dambakan, Bu. Aku sedang berjuang untuk meraih gelar lebih banyak. Aku berjuang agar aku bisa menjadi seseorang yang bisa membawa nama baik Ibu dan Ayah. Ibu, aku sudah belajar selama 7 tahun di bangku kuliah. Aku memiliki beberapa pekerjaan tanpa bantuan darimu. Apakah menurut Ibu aku sudah berusaha maksimal? Apakah menurut Ibu aku belum menjadi anak yang berbakti padamu? Apakah Ibu masih mengganggapku anak durhaka? Ibu, jik...

Percakapan dengan Pasien

Mama Andi, perempuan paruh baya yang mengeluhkan sakit gigi, sudah berada di dalam Poli Gigi Puskesmas. Aku sebagai dokter gigi, bertanya secara menyeluruh. Namun, masih jawabannya masih tidak dapat kujadikan pegangan untuk menegakan diagnosa. Kepalaku saat itu sangat pusing. Penyakit vertigo kembali menyerangku. Aku berpegangan pada sudut meja kerjaku. Dalam hatiku ingin sekali aku minta pulang pagi ini, tapi mengingat perjuangan Mama Andi, aku mengurungkan niat. Setelah kepalaku terasa agak ringan, aku mengajak Mama Andi untuk duduk di kursi gigi. Saatnya aku meluncurkan aksi basa-basi.  “Ibu Fitri, apakah sudah pernah ke dokter gigi sebelumnya?” Mama Andi menggeleng. “Wargi di dieu, biasa nyebut Abi mah Mama Andi, Bu.”  jawabnya. ‘Warga di sini biasa memanggil saya Mama Andi, Bu.’ Baik, ditanya A, jawabannya B.   Saat itu aku belum menyadari satu hal penting. “Baik, Mama Andi, sudah pernah berobat ke dokter gigi?” tanyaku sembari tersenyum, palsu, karena tertutup maske...

Mekanisme ke Dokter Gigi Puskesmas, Pendaftaran

Apakah masih ingat cerita tentang Ibu yang mengirimkan pesan singkat untuk cabut gigi? Hari ini aku akan melanjutkan cerita tentangnya. Keesokan harinya, hari dimana Ibu datang ke Puskesmas. Ibu Fitri Arianti, nama lengkapnya. Beliau biasa dipanggil Mama Andi, karena anak pertamanya bernama Andi. Rumahnya cukup jauh dari Puskesmas, kurang lebih setengah jam. Beliau mengendarai motor seorang diri, melewati jalanan berlumpur, dan truk besar yang berisi batu bara. Perjuangan untuk berobat gigi layak aku apresiasi. Mama Andi mendaftar di loket dengan membayar kartu berobat sebesar lima ribu rupiah. Tak lupa menyerahkan KTP dan kartu BPJS. Beliau ditanyakan oleh petugas pendaftaran mengenai keluhannya. Alhamdulillah, kali ini jawabannya tepat, yaitu sakit gigi. Beliau diarahkan menuju meja perawat untuk dilakukan pengukuran tekanan darah, berat badan, tinggi badan, denyut nadi, pernapasan, serta suhu. Setelah itu, menunggu antrian untuk masuk ke Poli Gigi. Saat itu, hanya terdapat 1 pasien ...

Jika Gigi Sakit, Ditambal atau Dicabut?

Malam ini, aku mendapatkan pesan singkat dari seorang pasien wanita. Dari foto profil yang aku lihat, usianya kisaran 40 tahun. “Assalamualaikum. Selamat malam, Dok.” katanya membuka percakapan. “Apakah Dokter besok ada di Puskesmas? Besok saya ingin cabut gigi, Dok.” lanjutnya. Aku membuka pesan singkat darinya dengan segera. “Waalaikumussalam. Besok saya ada jadwal di Puskesmas, Bu.” balasku. “Keluhan Ibu, apa ya?” tanyaku. Pesan singkat yang kukirimkan langsung centang biru, tanda bahwa pesanku sudah dibaca oleh wanita tersebut. Terlihat di layar telepon genggamku ia sedang mengetik. “Sakit gigi saya, Dok.” jawabnya singkat. Dalam hatiku ingin menjerit. Siapa saja yang menghubungi dokter gigi, pasti keluhannya sakit gigi, bukan sakit mata, atau telinga. Aku masih berusaha untuk sabar dalam membalas pesannya. “Ibu, apakah sakitnya saat makan atau mau tidur, Bu? Apakah Ibu sudah minum obat dalam beberapa hari ini? Apakah Ibu merasakan gigi Ibu berlubang? Jika iya, sudah berapa lama te...

Anak Takut ke Dokter Gigi?

Dok, pada usia berapa, pertama kali gigi anak akan berganti? Pada usia 5 sampai 7 tahun, terjadi masa transisi pada gigi anak. Dimana gigi dewasa telah tumbuh di bawah gusi, dan menekan gigi susu di atasnya, sehingga akar gigi susu akan mengalami keropos sedikit demi sedikit. Gigi susu akan menjadi goyang. Saat gigi susu anak goyang, maka gigi susu harus dicabut dengan segera. Apakah yang akan terjadi jika gigi susu tidak dicabut dengan segera? Ada kemungkinan terjadinya maloklusi. Maloklusi menurut KBBI, kelainan susunan gigi geligi rahang atas dan bawah yang berhubungan dengan bentuk rongga mulut serta fungsi. Bahasa singkatnya, gigi menjadi tidak rapi. Mengapa banyak anak-anak yang takut ke dokter gigi, Dok? Manusia yang dikategorikan sebagai anak-anak adalah manusia yang berusia 0 sampai 10 tahun. Pada usia tersebut, anak belajar banyak hal baru. KIta sebagai orang dewasa, ketika melakukan hal baru untuk pertama kali, pasti akan merasa begitu takut saat akan menghadapinya. Begitu j...

Cabut Gigi pada Pasien Periodontitis, Apakah Perlu?

Pada dua judul tulisan, yang saya tuliskan beberapa hari lalu, saya membahas mengenai penyakit pada rongga mulut, yaitu gingivitis dan periodontitis. Gingivitis merupakan penyakit radang gusi yang disebabkan oleh karang gigi. Periodontitis merupakan terjadinya kegoyangan pada gigi karena terjadinya penurunan tulang alveolar atau tulang penyangga gigi. Periodontitis merupakan lanjutan dari perjalanan penyakit gingivitis yang tidak disembuhkan. Kegoyangan pada gigi yang terjadi terdiri dari tiga derajat keparahan. Apa saja tiga derajat kegoyangan gigi, Dok? Derajat satu yaitu ketika kegoyangan gigi sedikit lebih besar dari normal. Derajat dua yaitu ketika kegoyangan gigi sekitar 1 mm anterior (depan) dan posterior (belakang). Derajat tiga, yang paling parah, yaitu kegoyangan lebih dari 1 mm ke segala arah dan/atau gigi dapat ditekan ke arah apikal (akar). Dok, apa saja pilihan pengobatan untuk penyakit periodontitis? Apakah harus dilakukan pencabutan gigi, Dok? Terdapat dua pilihan pengo...